TSUNAMI DARI GUNUNG MENGHANYUTKAN KESADARAN
Beberapa hari yang lalu media
sosial kita ramai disuguhkan rekaman kekalutan di sebuah Mall akibat masuknya
nya air bah. Puluhan orang berteriak histeris berlari ke lantai atas untuk
menghindari kejaran air. Nampak air memenuhi satu lantai dasar yang tidak
kurang dari 12 meter terisi air. Pemandangan yang mirip seperti kejadian
tsunami yang terjadi di Kota Palu Sulawesi di tahun 2018.
Air bah kembali mengamuk, meluap dari sungai yang dulu tenang, menerjang
pemukiman yang dulu damai. Lumpur cokelat pekat menggenangi jalanan, merendam
rumah-rumah, melumpuhkan kehidupan. Bencana banjir, yang dulu dianggap sebagai
kejadian langka, kini menjadi tamu yang tak diundang, datang berulang kali,
semakin sering, semakin dahsyat.
Bukan hanya harta benda yang lenyap, tetapi juga kenangan, harapan, dan
rasa aman. Anak-anak yang biasa bermain di halaman kini terkurung di
pengungsian, orang tua yang biasa bekerja mencari nafkah kini kehilangan mata
pencaharian. Air mata bercampur lumpur, kesedihan menyelimuti setiap sudut
kota.
Namun, di tengah bencana yang melanda, ada keheningan yang mencekam.
Bukan keheningan karena tak ada suara, tetapi keheningan karena tak ada
kata-kata yang keluar. Tak ada teriakan kemarahan, tak ada seruan untuk
bertindak, tak ada janji untuk mencegah terulangnya bencana.
Seolah-olah, banjir adalah takdir yang tak terhindarkan, sesuatu yang
harus diterima dengan pasrah. Seolah-olah, manusia tak punya andil dalam
menciptakan bencana ini. Seolah-olah, hutan yang gundul, sungai yang tercemar,
dan sampah yang menumpuk tak ada hubungannya dengan air bah yang melanda.
Hutan, yang dulu menjadi paru-paru bumi, kini tinggal kenangan.
Pohon-pohon raksasa yang dulu kokoh berdiri kini tumbang, digantikan oleh
bangunan-bangunan beton yang menjulang. Satwa-satwa liar yang dulu bebas
berkeliaran kini kehilangan habitatnya, terpaksa mencari perlindungan di tempat
lain.
Sungai, yang dulu menjadi sumber kehidupan, kini berubah menjadi saluran
pembuangan. Sampah plastik, limbah industri, dan kotoran manusia mengalir tanpa
henti, mencemari air yang seharusnya jernih. Ikan-ikan yang dulu berenang riang
kini mati, keracunan oleh limbah yang tak terkendali.
Kita hidup di tengah lautan sampah, dikelilingi oleh polusi udara, dan
terancam oleh perubahan iklim. Namun, kita seringkali menutup mata, mengabaikan
tanda-tanda peringatan, dan terus merusak lingkungan.
Kita membangun rumah di bantaran sungai, menebang hutan tanpa
perhitungan, dan membuang sampah sembarangan. Kita mengejar keuntungan sesaat,
tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Kita lupa bahwa alam memiliki batas
kesabaran, dan ketika batas itu terlampaui, bencana akan datang.
Kekecewaan ini bukan hanya tentang banjir yang merendam rumah, tetapi
juga tentang keheningan yang menyelimuti. Kekecewaan ini bukan hanya tentang
kerugian materi, tetapi juga tentang hilangnya kesadaran.
Kita terlalu sibuk menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam, dan
menghindari tanggung jawab. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki peran dalam
menjaga lingkungan, bahwa setiap tindakan kecil dapat berdampak besar.
Banjir ini adalah peringatan keras bagi kita semua. Ini adalah saatnya
untuk bangkit, untuk mengubah perilaku, untuk menjaga lingkungan. Kita harus
mengembalikan fungsi hutan sebagai penyerap air, membersihkan sungai dari
sampah dan limbah, dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Kita harus membangun
infrastruktur yang ramah lingkungan, menerapkan kebijakan yang berkelanjutan,
dan meningkatkan kesadaran masyarakat.
Kita tidak bisa lagi berdiam diri, menunggu bencana berikutnya datang.
Kita harus bertindak sekarang, sebelum terlambat. Kita harus menjaga hutan,
menjaga sungai, dan menjaga lingkungan, bukan hanya untuk diri kita sendiri,
tetapi juga untuk generasi mendatang dari hanyutnya kesadaran kita tentang
betapa pentingnya alam.





