Keseruan Pembelajaran Projek IPAS dalam Pengujian Media Tanam Cocopeat sekaligus Menumbuhkan Karakter
NAMA :
AHMAD PARHAN
KELAS :
X ATM B
Siswa SMKNPP
CIANJUR
Pembelajaran di sekolah saat ini tidak hanya berfokus pada teori
semata, tetapi juga menekankan pada penerapan pengetahuan secara langsung
melalui berbagai kegiatan berbasis proyek. Salah satunya adalah Projek IPAS
yang di bimbing oleh ibu Nia Kurnia.
Projek ipas menjadi salah satu
pendekatan pembelajaran yang sangat disukai oleh siswa karena menghadirkan
pengalaman belajar yang seru dan bermakna.
Apa Itu Projek IPAS?
Projek IPAS merupakan kegiatan pembelajaran yang menyatukan ilmu
pengetahuan alam dan sosial ke dalam satu proyek tematik yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan ini, siswa diajak untuk mengeksplorasi,
meneliti, berdiskusi, dan menyajikan hasil temuan mereka secara kreatif.
Keseruan yang Dirasakan Siswa
1.
Belajar Sambil Praktik
Siswa tidak hanya membaca atau mendengarkan penjelasan guru, tetapi
langsung terjun ke lapangan, melakukan pengamatan, eksperimen, atau survei. Hal
ini membuat pembelajaran menjadi lebih nyata dan menyenangkan.
2.
Kerja Tim yang Kompak
Projek IPAS mengharuskan siswa bekerja dalam kelompok. Dalam proses
ini, mereka belajar kerja sama, komunikasi, dan tanggung jawab. Keseruan muncul
saat mereka berdiskusi, membagi tugas, dan saling mendukung untuk mencapai
tujuan bersama.
3.
Kreativitas Tanpa Batas
Siswa bebas menyampaikan ide dan membuat karya yang unik, mulai dari
poster, video, presentasi, hingga model atau prototipe. Ini memberi ruang bagi
siswa untuk mengekspresikan bakat dan kreativitasnya.
4.
Menghubungkan Ilmu dengan
Kehidupan Nyata
Projek IPAS membuat siswa sadar bahwa pelajaran yang mereka pelajari
ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat mereka
praktik pembuatan cocopeat, cocofiber, cocofeat +, atau compos, mereka bisa
langsung menggunakannya pada tanaman.
[20/6, 07.44] Ahmad: Pengamatan timun suri
Dalam proyek ini, kami melakukan percobaan untuk mengamati pertumbuhan
tanaman timun suri pada lima jenis media tanam yang berbeda.
Tujuan Proyek
Tujuan dari proyek ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam terhadap
pertumbuhan tanaman timun suri. Kami ingin mengetahui media mana yang paling
efektif dan subur dalam mendukung perkembangan tanaman timun suri dari segi
tinggi batang, jumlah daun, dan kondisi keseluruhan tanaman.
Jenis Media Tanam yang Digunakan
Kami menggunakan lima jenis media tanam berikut:
1.
Cocopeat + Kohe (kotoran hewan)
2.
Cocopeat + Tanah + Kohe
3.
Cocopeat + Tanah + NPK (pupuk
kimia)
4.
Tanah Secam + Kohe
5.
Tanah Secam + NPK
Pelaksanaan Proyek
Kegiatan ini dilakukan di depan kelas, dengan bimbingan dari Bu Nia
selaku guru pembimbing. Kami menanam bibit timun suri yang sama ke dalam lima
pot yang berbeda media tanam, lalu menyiram dan mengamati pertumbuhan setiap
harinya.
Namun, pada minggu kedua, kami mengalami kendala besar. Tanaman pada
media 1, 2, 3, dan 5 mengalami kerusakan parah dan akhirnya mati, terutama
karena kurangnya perawatan rutin dan ketidakteraturan dalam penyiraman. Ini
menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan bagi kami, karena sebelumnya semua
tanaman tampak tumbuh dengan baik di minggu pertama.
Hasil Pengamatan
Dari lima tanaman, hanya tanaman pada media ke 4 (Tanah Secam + Kohe)
yang berhasil bertahan hidup hingga akhir pengamatan. Tanaman ini tumbuh secara
perlahan, namun stabil. Daunnya mulai bertambah dan warnanya hijau segar.
Walaupun tidak tumbuh sangat cepat, setidaknya tanaman ini berhasil bertahan
dan menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang baik.
Refleksi dan Pembelajaran
Melalui proyek ini, kami belajar bahwa keberhasilan pertumbuhan tanaman
tidak hanya bergantung pada media tanam, tetapi juga sangat bergantung pada
konsistensi perawatan. Media yang kaya nutrisi pun tidak akan berguna jika
tanaman tidak disiram dan dirawat secara rutin. Kegagalan tanaman kami di
minggu kedua menjadi pelajaran penting tentang tanggung jawab dan kerja tim.
Selain itu, proyek ini juga mengajarkan kami cara mencatat data
pengamatan, menganalisis penyebab masalah, dan berdiskusi untuk mencari solusi
bersama. Kami menyadari bahwa belajar dari kegagalan justru memberikan
pengalaman yang lebih dalam dan bermakna.
Kesimpulan
Proyek IPAS ini sangat berkesan bagi Kelompok Banteng. Meski hanya satu
tanaman yang berhasil tumbuh, kami mendapatkan banyak pelajaran berharga. Di
bawah bimbingan Bu Nia, kami belajar bahwa tanggung jawab, kerja keras, dan
ketekunan sangat dibutuhkan dalam proses belajar, terutama dalam praktik
seperti ini. Kami berharap proyek selanjutnya bisa lebih sukses, dan kami bisa
menjadi lebih baik lagi dalam merawat tanaman dan bekerja sebagai tim.





